Jumat, 03 Juli 2015

PERENCANAAN PLUMBING (MENURUT SNI 03-7065-2005)

Menurut  SNI 03-7065-2005 prosedur perencanaan sistem plumbing untuk bangunan gedung dengan jumlah penghuni ebih dari 500 atau pengunjung lebih dari 1500 harus dilakukan dalam 4 tahap:
ü  Konsep Rencana
ü  Rencana Dasar
ü  Rencana Pendahuluan
ü  Rencana Pelaksanaan

A. Prosedur Perencanaan

1.         Konsep Rencana
Dalam konep rencana yang harus diketahui adalah data dan informasi awal dari gedung yang akan di bangun, dan juga data dan informasi akhir dari gedung  tersebut.

a.       Data dan Informasi Awal
Data dan informasi akhir  yang diperlukan   adalah:
ü   Jenis / penggunaan hunian dan jumlah penghuni
ü  Gambar rencana arsitektural gedung pada tahap konsep
ü  Jaringan air minum dan fasilitas pembuangan air buangan kota
ü  Peraturan yang berlaku umum maupun yang berlaku setempat

b.      Data dan informasi Akhir
Data dan informasi akhir  yang harus disiapkan  adalah:
ü  Gambar yang menunjukan lokasi penyambungan dengan sumber ar dan lokasi sistem pembuangan
ü  Gambar denah tata letak alat plumbing, jenis dan jumlahnya
ü  Perkiraan RAB untuk plumbing
ü  Rencana jangka panjang untuk pelaksanaan pembangunan, konsep cara membangun dan pembagian paket pekerjaan
ü  Dokumen yang diperlukan untuk mengurus persetujuan prinsip membangun dari instansi berwenang dan pihak lain yang terkait.
ü  Sistem air minum
·         Dari pengelola air minum, kapasitas dan kualitas yang dapat dijamin
·         Dari sumber air baku untuk air minum dengan perkiraan kapasitas dan kualitas yang dapt dijamin sepanjang tahun
ü  Sistem pembuangan
·         Ke riol kota, kapasitas, arah dan jalur pembuangan, serta ijin dari instansi yang berwenang.
·         Ke instalasi pengolahan dan buangan setempat
ü  Perhitungan kasar megenai kebutuhan air minumper hari, banyaknya air buangan per hari dan kebutuhan daya lisstrik untuk sistem plumbing.

2.    Rencana Dasar
Setelah data dari onsep rencanan di dapat, barulah ke tahap berikutnya yang diamakan rencana dasar. Pada rencana dasar, pekerjaan utama meliputi Penyusunan rencana dasar, dan perisapan gambar dan dokumen

a.         Penyusunan Rencana dasar
Penyususnan rencana dasar terdiri dari:
ü  Perhitunga kebutuhan air minum berdasarkan perkiraan total hunian
ü  Penentuan jaringan utama, jalur pipa dan diagram sistem plumbing
ü  Penentuan ukuran dan perkiraan berat tandon bawah dan tandon atas
ü  Penentuan cara penumpuan dan penggantungan pipa utama
ü  Penentuan alternatif sistem dan perlengkapannya, rencanadasar dan mesinmesin utma yang diperlukan

b.        Gambar dan Dokumen
Gambar yang disiapkan meliputi:
ü  Diagra sistem plumbing
ü  Gambar denah ruang mesin dan tangki (tandon), yang menunjukan ukuran kasar mesi dan tandon tersebut.
Dokumen dalam bentuk laporan, meliputi:
ü  Penjelasan alternatif sistem dan perlengkapannya
ü  Hasil perhitungan sistem plumbing, ukuran kasar dan jalur pipa utama
ü  Perkiraan berat pipa dan isinya untuk informasi bagi perencana struktur gedung
ü  Kapasitas mesin mesin yang dperlukan.
ü  Perkiraan RAB Plumbing yang lebih rinci
ü  Spesifikasi bahan dan peralatan

3.         Rencana Pendahuluan
Rencana pendahuluan meliputi Perhitungan volume pipa  dan gambar

a.         Perhitungan
 meliputi
ü  Perhitungan ukuran semua pipa cabang
ü  Perhitungan laju aliran dalam pipa (sesuai dengan perhitungan SNI 03-6481-2000 tentang sistem plumbing

b.      Gambar dan Dokumen
Gambar yang disapkan sekurang kurangnya meliputi:
ü  Diagram satu garis sistem air bersih, penyaluran air buangan, ven dan air hujan
ü  Gambar denah jaringan pipa utama
ü  Gambar denah ruang mesin, dan tandon dan ukuran
ü  Gambar detai potongan yang pentng atau khusus

4.       Rencana Pelaksanaan
Dokumen rencana detil pelaksanaan yang harus disiapkan
ü  Perkiraan Biaya pelaksanaan
ü  Spsesifikasi lengkap
ü  Persyaratan umum pelaksanaan.


Istilah istilah yang dipakai di SNI, untuk air bersi dipakai istilah air minum, sistem air kotor dan air bekas disebut air buangan, tandon bawah ground tan) disebut tangki air bawah, sedang untuk roof tank (tandon atas)  disebut Tanki air atas.

B. Berikut adalah tabel-tabel di  SNI 03-7065-2005 untuk perencanaan. 

Tabel  Pemakaian Air Dingin Minimum Sesuai Penggunaan Gedung

NO
PENGGUNAAN GEDUNG
PEMAKAIAN AIR
SATUAN
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17


Rumah Tinggal
Rumah Susun
Asrama
Rumah Sakit
Sekolah dasar
SLTP
SMU/ SMK
Ruko /Rukan
Kantor / Pabrik
Toserba/ Toko Pengecer
Restora
Hotel Berbintang
Hotel Melati/ penginapan
Gedung pertunjukan/ bioskop
Gedung Serba Guna
Stasiun / Terminal
Peribadatan
120
100
120
500
40
50
80
100
50
5
15
250
150
10
25
3
5

Liter/penghuni/hari
Liter/penghuni/hari
Liter/penghuni/hari
Liter/ bed/ hari
Liter/siswa/hari
Liter/siswa/hari
Liter/siswa/hari
Liter/penghuni &  pegawai/hari
Liter/pegawai/hari
Liter /m2
Liter/ kursi
Liter/bed/hari
Liter/bed/hari
Liter/kursi
Liter kursi
Liter/penumpang tiba & pergi
Liter/orang
(belum tempat ar wudlu)


Note: Bed = Tempat tidur


Tabel  Pemakaian Air Panas  Minimum Sesuai Penggunaan Gedung ( suhu 60 ‘C)


NO
PENGGUNAAN GEDUNG
PEMAKAIAN AIR L/org/hari
Kapasitas tangki penyimpan
 sehari
1
2
3
4
5
6
7
8



Rumah Tinggal
Rumah Susun
Hotel
Rumah Sakit
Kantor
Pab
Restoran
Kamar mandi umum
(1x mandi per orang)

50 dan 100
50 dan 100
110
130
20
20
10
30
1/5
15
1/5
1/10
1/5
2/5
2/5
1/5





(lanjut)
Sumber : SNI 03-7065-2005 & SNI 03-6481-2000

Kamis, 02 Juli 2015

MENGENAL STANDAR ACUAN DALAM PEKERJAAN MEKANIKAL & ELEKTRIKAL

1. PEMADAM KEBAKARAN
SNI 03-1735-2000 Tata Cara Perencanaan Akses Bangunan Dan Akses Lingkungan Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung.
SNI 03-1736-2000 Tata Cara Perencanaan Sistem Proteksi Pasif Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah  Dan Gedung.
SNI 03-1745-2000 Tata Cara Perencanaan Dan Pemasangan Sistem Pipa Tegak Dan Slang Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah Dan Gedung.
SNI 03-1746-2000 Tata Cara Perencanaan Dan Pemasangan Sarana Jalan Ke Luar Untuk Penyelamatan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung.
SNI 03-3985-2000 Tata Cara Perencanaan, Pemasangan Dan Pengujian Sistem  Deteksi Dan Alarm Kebakaran Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung.
SNI 03-3989-2000 Tata Cara Perencanaan Dan Pemasangan Sistem Springkler Otomatik Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung.
SNI 03-6570-2001 Instalasi Pompa Yang Dipasang Tetap Untuk Proteksi Kebakaran.
SNI 03-6571-2001 Sistem Pengendalian Asap Kebakaran Pada Bangunan Gedung.
SNI 03-6574-2001 Tata Cara Perancangan Pencahayaan Darurat, Tanda Arah Dan Sistem Peringatan Bahaya Pada Bangunan Gedung.
SNI 09-7053-2004 Kendaraan Dan Peralatan Pemadam Kebakaran – Pompa
UU RI No 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung
Kepmen PU No.: 441/KPTS/1998 Persyaratan Teknis Bangunan Gedung.
Kepmen PU No.: 11/KPTS/2000 Ketentuan Teknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran Di Perkotaan.
Kepmen PU No.: 10/KPTS/2000 Ketentuan teknis pengamanan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan.
Permenaker No.: Per.04/Men/1980 Syarat-syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan
Permenaker No.: Per.02/MEN/1983 Instalasi Alarm Kebakaran Automatik
Inst.Menaker No.:Ins.11/M/BW/1997 Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan Kebakaran
Kepmenaker No.: Kep.186/MEN/1999 Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja
Perda DKI Jakarta
Perda No. 3 Tahun 1992 Tentang Penanggulangan Bahaya Kebakaran  dalam Wilayah DKI Jakarta

2. PLUMBING
SNI-03-6481-2000 tentang Sistem Plambing 2000
SNI-03-7065-2005 tentangTata cara perencanaan sistem plambing
SNI-03-2399-2002 tentangTata cara perencanaan bangunan MCK umum
SNI-03-2398-2002 tentang Tata cara perencanaan tangki septik dengan sistem resapan
SNI-03-2453-2002 tentang Tata cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan


3. TATA UDARA (AC)
SNI-03-6390-2000 tentang Konservasi Energi Sistem Tata Udara
SNI-03-6572-2001 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi danPengkondisian Udara pada Bangunan Gedung.
SNI-03-6571-2001 tentang Sistem Pengendalian Asap pada Bagunan Gedung.
SNI-03-6767-2002 tentang Spesifikasi Umum Sistem Ventilasi Mekanis dan Sistem Tata Udara sebagai Pengendali Asap Kebakaran Dalam Bangunan (Damper Kebakaran)
 SNI-03-7012-2004 tentang Sistem Manajemen Asap di dalam MAL, Atrium danRuangan Bervolume Besar.

4. TRANSFORTASI GEDUNG (LIFT & ESCALATOR)
SNI-03-2190-1999 Kostruksi Lift Penumpang dengan Motor Traksi
SNI-03-6248-2000 Konstrusi Eskalator.

5. ELEKTRIKAL
SNI-04-0227-1994 tentang Tegangan Standar.
SNI-04-0255-2000 tentang Persyaratan Umum Instalasi Listrik. (Puil 2000)
SNI-03-6197-2000 tentang Konversi Energi Sistem Pencahayaan.
SNI-03-6574-2001 tentang Tata Cara Perancangan PencahayaanDarurat, Tanda Arah dan Sistem Peringatan Bahaya pada Bangunan
SNI-03-6575-2001 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Buatanpada Bangunan.
SNI-19-6659-2002, Tentang Tanda keselamatan - Pemanfaat listrik
SNI-03-7018-2004 tentang Sistem Pasokan Daya darurat
SNI-03-7019-2004 tentang Sistem Pasokan Daya darurat menggunakan energi tersimpan (SPDDT)

6. FIRE ALARM

SNI-03-3985-2000  tentang  Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran.

7. PENANGKAL PETIR
SNI-03-7015-2004 tentang Sistem Proteksi Petir pada Bangunan.
IEC 6-1024, Protection of Structures against lighting-part general 1, General Principles
IEC 6-1312-1, Protection of Structures against lighting-part general 1, General Principles
IEC TR 6-1662, Assesment of Risk of Damage due to lightning
IEC 62305 
BS EN 62305 (Inggris)
NFPA 780UL 96 (Amerika )
NFC 17-102 (Perancis)
UNE 21186 (Spanyol )
 DIN VDE 0800 ( Jerman)
DIN VDE 0845 (Jerman)

ABSTRAKSI 
SNI-03-7065-2005 tentangTata cara perencanaan sistem plambing, 
Standar ini menetapkan Tata cara perencanaan sistem plambing, mencakup sistem plambing yang baru untuk air minum, air buangan, ven dan air hujan pada gedung sampai dengan pipa persil, dan sistem plambing yang baru direncanakan untuk perubahan atau penambahan terhadap sistem plambing pada gedung yang sudah dibangun sebelum SNI ini diberlakukan. Standar ini menjelaskan prosedur perencanaan, perencanaan sistem penyediaan air minum, perencanaan sistem air buangan dan ven, perencanaan sistem pembuangan air hujan, dan perencanaan jaringan pembuangan campuran.



(lanjut)


Rabu, 17 Juni 2015

MENGENAL SISTEM GAS MEDIS RUMAH SAKIT (1)

Dari presentasi beberapa kontraktor yang menangani masalah gas medis, yang menjadi relasi kerja dari perusahaan tempat kami bernaung, setidaknya telah banyak memberikan pelajaran yang begitu berharga, baik melalui presentasi, hasil kerja di lapangan  dan juga pelatihan ke pihak pengguna.



 Gbr. Presentasi product Medimax Korea

Karena menyangkut sesuatu pekerjaan yang spesifik, maka  yang menyangkut permasalahan instalasi gas medik acuannya berdasarkan  peraturan dinas terkait, terutama peraturan dari mentri kesehatan. 

Dari hasil rangkuman presentasi dari beberaa kontraktor yang menangani masalah gas medik dapat diungkapkan dari tulisan dibawah ini.

A. Perencanaan & Pelaksanaan
Pada perencanaan dan pelaksanaan sistem gas medik  untuk Rumah Sakit pada intinya meliputi sistem penyediaan sentral gas medik, instalasi  hingga   outlet gas medik di bed head. 

1. Pengertian
Menurut keputusan mentri kesehatan Republik Indonesia nomor 1439/ MENKES/SK/XI/2002, 
pengertian dari sistem gas medis sebagai berikut:
  • Gas Medis adalah gas dengan spesifikasi khusus yang dipergunakan untuk pelayanan medis pada sarana kesehatan
  • Instalasi Pipa Gas Medis adalah seperangkat prasarana perpipaan beserta peralatan yang menyediakan gas medis tertentu yang dibutuhkan untuk menyalurkan gas medis ke titik outlet diruang tindakan dan perawatan;
  • Sentral gas medis adalah seperangkat prasarana beserta peralatan dan atau tabung gas/liquid yang menyimpan beberapa gas medis tertentu yang dapat disalurkan melalui pipa instalasi gas medis;
  • Instalasi Gas Medis selanjutnya disingkat (IGM) adalah seperangkat sentral gas medis, instalasi pipa gas medis sampai outlet
 2.   Jenis Gas Medik
Menurut keputusan mentri kesehatan Republik Indonesia nomor 1439/MENKES/SK/XI/2002, Jenis Gas Medis yang dapat digunakan pada sarana pelayanan kesehatan meliputi :
  • Oxygen (O2)
  • Nitrous Oksida (N2O)
  •  Nitrogen (N2)
  •  Karbon dioksida (CO2)
  •  Cyclopropana (C3H6)
  •  Helium (He)
  •  Udara tekan (Compressed Air) (Medical Breathing Air)
  • Mixture gas.
Dan Gas medis yang dapat digunakan melalui Instalasi Gas Medis menurut kemenkes meliputi 
  • Oxygen (O2)
  • Nitrous Oksida (N2O)
  • Nitrogen (N2)
  • Karbon dioksida (CO2)
  • Udara Tekan (Compressed Air) (Medical Breathing Air)
Tetapi pada umumnya di rumah sakit instalasi gas medis meliputi  4 sistem (sesuai urutan pemasangan) , yaitu:
  • Oxygen (O2)
  • Nitrous Oksida (N2O)
  • Udara Tekan (Compressed Air) (Medical Breathing Air)
  • Vakum (Medical Suction)
3. Sentral Gas Medis
a. Ruang Sentral Gas Medis
Ada hal hal yang harus diperhatikan dalam menentukan ruang gas medis diantranya bahwa Lokasi ruang gas medis mudah dijangkau transfortasi untuk pengiriman dan pengambilan tabung, dan juga harus aman / jauh dari kegiatan yang memungkinkan terjadinya ledakakan/ kebakaran,serta jauh dari sumber panas oli dan sejenisnya

Dalam  kemenkes nomor 1439/MENKES/SK/XI/2002 Ruang Gas Medis sebagai berikut:
a. Lokasi ruang gas medis mudah dijangkau transportasi untuk pengiriman dan pengambilan tabung;.
b. Harus aman / jauh dari kegiatan yang memungkinkan terjadinya ledakan / kebakaran;
c. Jauh dari sumber panas oli dan sejenisnya;
d. Disediakan ruang operator/ petugas dan dilengkapi fasilitas kamar mandi / WC;
e. Ukuran Ruangan gas medis;
       Luas   ruangan disesuaikan dengan jumlah dan jenis gas medis yang dipergunakan dan  
       memperhatikan kelonggaran bergerak bagi operator / petugas pada saat penggantian /
       pemindahan tabung dan kegiatan pemeliharaan;
f. Bangunan Ruangan gas medis harus memenuhi persyaratan :
- Konstruksi beton permanen;
- Penerangan yang memadai;
- Sirkulasi udara yang cukup.


4.Pemipaan Instalasi

Syarat pipa gas medisd dalam kemenkes nomor 1439/MENKES/SK/XI/2002 sebagai berikut:
a. Pipa yang dipergunakan harus terbuat dari tembaga dengan kadar ±99 % ( sembilan puluh sembilan persen ) atau stainless steel , yang dinyatakan dengan sertifikat bahan.
b. Pipa yang akan dipasang harus bersih.
c. Pipa gas medis harus diberi warna sesuai dengan gas medis yangdialirkan.
d. Pipa gas medis harus memenuhi keamanan terhadap struktur danutilitas dari bangunan unit sarana pelayanan kesehatan.
e. Ukuran pipa disesuaikan dengan kebutuhan / desain yang benar.
f. Penyambungan pipa harus dilas dengan menggunakan kawat lasperak , agar sambungan pipa rapat  sempurna dan tahan lama, Gas yang dipergunakan adalah campuran oksigen, Acetyline dan pada
proses pengelasan harus dialiri gas Nitrogen.
g. Pemasangan instalasi pipa diatas plafon harus dilengkapi dudukandan gantungan yang diikat kuat pada dak beton.
h. Pemotongan pipa harus menggunakan cutter pipa.
i. Jarak dudukan / penempatan satu dengan lainnya rata – rata 1(satu ) meter, baik vertikal maupun horizontal.
j. Pemasangan instalasi pipa gas medis harus dalam dinding dan dilindungi pipa PVC.
k. Diberikan tanda / stiker jenis gas dan arah aliran gas dalam pipa.
l. Seluruh jaringan instalasi pipa gas medis dilengkapi :
a). 1 (satu) unit kran induk dipasang di ruang sentral;
b). 1 (satu) unit kran distribusi dipasang di tiap lantai;
c). Kran pembagi (Zone Valve) sesuai kebutuhan;

d). Kran darurat sesuai kebutuhan, dipasang diruang bedah.


5. Outlet
Outlet gas medik dipasang / ditanam pada dinding dengan ketinggian 140 s/d 150 cm diatas lantai.


Dalam kemenkes nomor 1439/MENKES/SK/XI/2002 pemasangan outlet gas medik sebagai berikut:
12. Pemasangan Out let Gas Medis
a. Wall Outlet.
Outlet gas medis jenis wall outlet dipasang / ditanam pada dinding dengan ketinggian antara 140 s/d 150 Cm diatas lantai.
• Bila digunakan untuk melayani 1 (satu) Bed, maka diletakkan di sebelah kanan Bed dan bila digunakan untuk melayani 2 (dua) Bed maka Wall Outlet diletakkan ditengah – tengah 2 (dua) Bedtersebut.
• Untuk pemakaian di kamar Operasi, Wall Outlet dipasang didinding dekat dengan bagian kepala pasien pada meja operasi.
• Untuk pemakaian di bagian lain Wall Outlet dipasang pada dinding yang berdekatan dengan peralatan kedokteran yang digunakan.
b. Pipa yang akan dipasang harus bersih.
Dipasang pada plafon dan dekat dengan titik pemakaian, biasanyadekat dengan bagaian kepala dari tempat tidur pasien pada Ruangan New Born Room dan Premature Room, Overhead Outlet dipasangdiatas tempat tidur bayi.
c. Ceiling Column
Penempatan / pemasangan Ceiling Column sama dengan Overhead Outlet, berhubung alat ini memiliki beban yang cukup berat ± 100 Kg, maka harus digantung pada konstruksi plafon yang kuat menahan beban tersebut.
d. Pemasangan Out let pada ruang operasi / bedah maupun peralatan harus berfungsi secara otomatis, Out let akan tertutup rapat pada saat tidak terpakai dan terbuka apabila telah disambungkan dengan alat penyalur gas medis.
e. Urutan pemasangan Out let gas medis harus tetap
Oksigen;
Nitrous oxside;
Udara tekan;
Udara hisap.
f. Pemasangan setiap out let gas medis diberi nama gas, warna yangberbeda, ukuran drat/sekrup yang berbeda pula.


(lanjut)

Sumber 
- Medical Gas Distribution System, Medimax Korea (Bahan presentasi & Brossure)
- Kemenkes nomor 143/Menkes/SK/XI/2002





Selasa, 16 Juni 2015

MENGENAL TEKNOLOGI AC DAIKIN

Setelah mengikuti presentasi yang dilakukan oleh PT. Daikin Airconditioning Indonesia, dengan pembicara Bpk. Anton Martono, Consulting Sales Engineer dari perusahaan tersebut. Dia dengan tuntas berbicara tentang tekhnologi AC Daikin.


     
         


Ringkasan dari presentasi tersebut, dapat di ungkapkan sebagai berikut ini:

1.  Daikin Compressor


Dengan menggunakan swing Compressor, dan Berkat putaran yang halus, swing kompressor menguarangi gesekan dan getaran. Ini juga mencegah kebocoran gas pendingin selama kompresi. Keuntungan ini menghasilkan operasi yang hening dan efisien.

- Putaran lebih halus
- Menguarangi gesekan dan getaran
- Tidak ada kebocoran gas selama kompressi

Sehingga menghasilkan operasi yang hening dan efisien







2. Daikin Motor Kompressor
  • Inverter Daikin menggunakan Reluctance DC Motor
  • Compressor Inverter Daikin diperkuat oleh Magnet Neodymium
  • Reluctance DC Motor mampu menghasilkan kecepatan dan kekuatan yang lebih besar

      
      I

Motor ini menggunakan 2 torsi berbeda, magnet neodymium dan torsi reluctance. Motor ini dapat menghemat energy karena menghasilkan daya lebih, besar dengan daya listrik lebih kecil dibnding motor AC atau motor DC convensional. Lebih efisien pada frekwensi rendah yang biasa digunakan pada air conditioner, meningkatan efisiensy sampai sekitar 20 %

3. Daikin Motor Fan

Motor DC memungkinkan kontrol rotasi yang halus, sehingga mengurangi konsumsi energi. Peningkatan  hingga 40% pada putara rendah

 

Dc motor membuat control putaran yang baik, hingga menguarangi konsumsi energy. Motor ini juga menghasilkan peningkatan pada efisiensy operasional hingga 40 %, dibandingkan dengan motor ac. Peningkatan ini dapat diperhatikan pada kisaran kecepatan rendah.

4. Daikin Mobile Controller



5. Daikin Central Controller



6. Confort Control

a. Operasi Hening Unit Indor

b. Operasi Hening Unit Outdoor


c. Sensor Mata 
1.  Sensor Mata (intelligent Eye) mencegah terbuangnya energy dengan menggunakan sensor infra merah untuk mendeteksi pergerakan manusia di dalam ruangan. Ketka tidak ada pergrakan, sensor mata akan menaikan /settng temperaturnya 2 derjat celsus.

Semua model dari 2,5 sampai 7,1 kw dilengkapi dengan sensor mata. Fungsi ini dapat dengan mudah diaktifkan dari remot control

d. Fungsi Program Kering

e. Kecepatan Kipas Otomatis


7.  Confortable Airflow

a. Sirip Ganda Aliran Udara Kuat

b. Sirip tunggal Aliran Udara Kuat

c. Kisi Ksi Bersudut Lebar

d. Ayun Vertikal Otomatis (Atas dan bawah)

e. Ayn Horizontal Otomatis

f. Aliran Udara 3-D

g. Mode Confort Airflow
Berfungsi mencegah aliran udara yang tidak nyaman dari berhembus langsung pada tubuh. Untuk mencegah hembusan langsung, sirif bergerak ke atas selama operasi pendinginan dan ke bawah selama operasi pemanasan.


7. Life Style Convenience

a. Mode Low Watt
Fungsi konsumsi daya iini mengalihkan pembahasan kekhawatiran tentang putus  sekring dengan membiarkan arus maksimum AC diaktifkan dalam langkah langkah sesuai dengan pemakaian listrik rumah tangga.

b. Hemat Listrik Standby
Bahkan saat AC tidak beroperasi, AC tetap membutuhkan daya standby. Meskipun demikian, berkat fugsi ini daya standby yang dibutuhkan dapat dikurangi.

c. Mode Econo
Mode econo membatasi  konsumsi daya maksimum . Hal ini meningkatkan efisiensi operasi dan juga mencegah sekring kelebihan beban.

d. Fungsi Powerful Inverter

c. Remote Control Nirkable dengan Latar.

d. Saklar Nyala/ Mati unit Indoor 

8.. Timer

a. Pengatur Waktu hidup / mati 24 jam

b. Pengatur Waktu Mingguan

c. Mode Night Set