Rabu, 17 Juni 2015

MENGENAL SISTEM GAS MEDIS RUMAH SAKIT (1)

Dari presentasi beberapa kontraktor yang menangani masalah gas medis, yang menjadi relasi kerja dari perusahaan tempat kami bernaung, setidaknya telah banyak memberikan pelajaran yang begitu berharga, baik melalui presentasi, hasil kerja di lapangan  dan juga pelatihan ke pihak pengguna.



 Gbr. Presentasi product Medimax Korea

Karena menyangkut sesuatu pekerjaan yang spesifik, maka  yang menyangkut permasalahan instalasi gas medik acuannya berdasarkan  peraturan dinas terkait, terutama peraturan dari mentri kesehatan. 

Dari hasil rangkuman presentasi dari beberaa kontraktor yang menangani masalah gas medik dapat diungkapkan dari tulisan dibawah ini.

A. Perencanaan & Pelaksanaan
Pada perencanaan dan pelaksanaan sistem gas medik  untuk Rumah Sakit pada intinya meliputi sistem penyediaan sentral gas medik, instalasi  hingga   outlet gas medik di bed head. 

1. Pengertian
Menurut keputusan mentri kesehatan Republik Indonesia nomor 1439/ MENKES/SK/XI/2002, 
pengertian dari sistem gas medis sebagai berikut:
  • Gas Medis adalah gas dengan spesifikasi khusus yang dipergunakan untuk pelayanan medis pada sarana kesehatan
  • Instalasi Pipa Gas Medis adalah seperangkat prasarana perpipaan beserta peralatan yang menyediakan gas medis tertentu yang dibutuhkan untuk menyalurkan gas medis ke titik outlet diruang tindakan dan perawatan;
  • Sentral gas medis adalah seperangkat prasarana beserta peralatan dan atau tabung gas/liquid yang menyimpan beberapa gas medis tertentu yang dapat disalurkan melalui pipa instalasi gas medis;
  • Instalasi Gas Medis selanjutnya disingkat (IGM) adalah seperangkat sentral gas medis, instalasi pipa gas medis sampai outlet
 2.   Jenis Gas Medik
Menurut keputusan mentri kesehatan Republik Indonesia nomor 1439/MENKES/SK/XI/2002, Jenis Gas Medis yang dapat digunakan pada sarana pelayanan kesehatan meliputi :
  • Oxygen (O2)
  • Nitrous Oksida (N2O)
  •  Nitrogen (N2)
  •  Karbon dioksida (CO2)
  •  Cyclopropana (C3H6)
  •  Helium (He)
  •  Udara tekan (Compressed Air) (Medical Breathing Air)
  • Mixture gas.
Dan Gas medis yang dapat digunakan melalui Instalasi Gas Medis menurut kemenkes meliputi 
  • Oxygen (O2)
  • Nitrous Oksida (N2O)
  • Nitrogen (N2)
  • Karbon dioksida (CO2)
  • Udara Tekan (Compressed Air) (Medical Breathing Air)
Tetapi pada umumnya di rumah sakit instalasi gas medis meliputi  4 sistem (sesuai urutan pemasangan) , yaitu:
  • Oxygen (O2)
  • Nitrous Oksida (N2O)
  • Udara Tekan (Compressed Air) (Medical Breathing Air)
  • Vakum (Medical Suction)
3. Sentral Gas Medis
a. Ruang Sentral Gas Medis
Ada hal hal yang harus diperhatikan dalam menentukan ruang gas medis diantranya bahwa Lokasi ruang gas medis mudah dijangkau transfortasi untuk pengiriman dan pengambilan tabung, dan juga harus aman / jauh dari kegiatan yang memungkinkan terjadinya ledakakan/ kebakaran,serta jauh dari sumber panas oli dan sejenisnya

Dalam  kemenkes nomor 1439/MENKES/SK/XI/2002 Ruang Gas Medis sebagai berikut:
a. Lokasi ruang gas medis mudah dijangkau transportasi untuk pengiriman dan pengambilan tabung;.
b. Harus aman / jauh dari kegiatan yang memungkinkan terjadinya ledakan / kebakaran;
c. Jauh dari sumber panas oli dan sejenisnya;
d. Disediakan ruang operator/ petugas dan dilengkapi fasilitas kamar mandi / WC;
e. Ukuran Ruangan gas medis;
       Luas   ruangan disesuaikan dengan jumlah dan jenis gas medis yang dipergunakan dan  
       memperhatikan kelonggaran bergerak bagi operator / petugas pada saat penggantian /
       pemindahan tabung dan kegiatan pemeliharaan;
f. Bangunan Ruangan gas medis harus memenuhi persyaratan :
- Konstruksi beton permanen;
- Penerangan yang memadai;
- Sirkulasi udara yang cukup.


4.Pemipaan Instalasi

Syarat pipa gas medisd dalam kemenkes nomor 1439/MENKES/SK/XI/2002 sebagai berikut:
a. Pipa yang dipergunakan harus terbuat dari tembaga dengan kadar ±99 % ( sembilan puluh sembilan persen ) atau stainless steel , yang dinyatakan dengan sertifikat bahan.
b. Pipa yang akan dipasang harus bersih.
c. Pipa gas medis harus diberi warna sesuai dengan gas medis yangdialirkan.
d. Pipa gas medis harus memenuhi keamanan terhadap struktur danutilitas dari bangunan unit sarana pelayanan kesehatan.
e. Ukuran pipa disesuaikan dengan kebutuhan / desain yang benar.
f. Penyambungan pipa harus dilas dengan menggunakan kawat lasperak , agar sambungan pipa rapat  sempurna dan tahan lama, Gas yang dipergunakan adalah campuran oksigen, Acetyline dan pada
proses pengelasan harus dialiri gas Nitrogen.
g. Pemasangan instalasi pipa diatas plafon harus dilengkapi dudukandan gantungan yang diikat kuat pada dak beton.
h. Pemotongan pipa harus menggunakan cutter pipa.
i. Jarak dudukan / penempatan satu dengan lainnya rata – rata 1(satu ) meter, baik vertikal maupun horizontal.
j. Pemasangan instalasi pipa gas medis harus dalam dinding dan dilindungi pipa PVC.
k. Diberikan tanda / stiker jenis gas dan arah aliran gas dalam pipa.
l. Seluruh jaringan instalasi pipa gas medis dilengkapi :
a). 1 (satu) unit kran induk dipasang di ruang sentral;
b). 1 (satu) unit kran distribusi dipasang di tiap lantai;
c). Kran pembagi (Zone Valve) sesuai kebutuhan;

d). Kran darurat sesuai kebutuhan, dipasang diruang bedah.


5. Outlet
Outlet gas medik dipasang / ditanam pada dinding dengan ketinggian 140 s/d 150 cm diatas lantai.


Dalam kemenkes nomor 1439/MENKES/SK/XI/2002 pemasangan outlet gas medik sebagai berikut:
12. Pemasangan Out let Gas Medis
a. Wall Outlet.
Outlet gas medis jenis wall outlet dipasang / ditanam pada dinding dengan ketinggian antara 140 s/d 150 Cm diatas lantai.
• Bila digunakan untuk melayani 1 (satu) Bed, maka diletakkan di sebelah kanan Bed dan bila digunakan untuk melayani 2 (dua) Bed maka Wall Outlet diletakkan ditengah – tengah 2 (dua) Bedtersebut.
• Untuk pemakaian di kamar Operasi, Wall Outlet dipasang didinding dekat dengan bagian kepala pasien pada meja operasi.
• Untuk pemakaian di bagian lain Wall Outlet dipasang pada dinding yang berdekatan dengan peralatan kedokteran yang digunakan.
b. Pipa yang akan dipasang harus bersih.
Dipasang pada plafon dan dekat dengan titik pemakaian, biasanyadekat dengan bagaian kepala dari tempat tidur pasien pada Ruangan New Born Room dan Premature Room, Overhead Outlet dipasangdiatas tempat tidur bayi.
c. Ceiling Column
Penempatan / pemasangan Ceiling Column sama dengan Overhead Outlet, berhubung alat ini memiliki beban yang cukup berat ± 100 Kg, maka harus digantung pada konstruksi plafon yang kuat menahan beban tersebut.
d. Pemasangan Out let pada ruang operasi / bedah maupun peralatan harus berfungsi secara otomatis, Out let akan tertutup rapat pada saat tidak terpakai dan terbuka apabila telah disambungkan dengan alat penyalur gas medis.
e. Urutan pemasangan Out let gas medis harus tetap
Oksigen;
Nitrous oxside;
Udara tekan;
Udara hisap.
f. Pemasangan setiap out let gas medis diberi nama gas, warna yangberbeda, ukuran drat/sekrup yang berbeda pula.


(lanjut)

Sumber 
- Medical Gas Distribution System, Medimax Korea (Bahan presentasi & Brossure)
- Kemenkes nomor 143/Menkes/SK/XI/2002





Selasa, 16 Juni 2015

MENGENAL TEKNOLOGI AC DAIKIN

Setelah mengikuti presentasi yang dilakukan oleh PT. Daikin Airconditioning Indonesia, dengan pembicara Bpk. Anton Martono, Consulting Sales Engineer dari perusahaan tersebut. Dia dengan tuntas berbicara tentang tekhnologi AC Daikin.


     
         


Ringkasan dari presentasi tersebut, dapat di ungkapkan sebagai berikut ini:

1.  Daikin Compressor


Dengan menggunakan swing Compressor, dan Berkat putaran yang halus, swing kompressor menguarangi gesekan dan getaran. Ini juga mencegah kebocoran gas pendingin selama kompresi. Keuntungan ini menghasilkan operasi yang hening dan efisien.

- Putaran lebih halus
- Menguarangi gesekan dan getaran
- Tidak ada kebocoran gas selama kompressi

Sehingga menghasilkan operasi yang hening dan efisien







2. Daikin Motor Kompressor
  • Inverter Daikin menggunakan Reluctance DC Motor
  • Compressor Inverter Daikin diperkuat oleh Magnet Neodymium
  • Reluctance DC Motor mampu menghasilkan kecepatan dan kekuatan yang lebih besar

      
      I

Motor ini menggunakan 2 torsi berbeda, magnet neodymium dan torsi reluctance. Motor ini dapat menghemat energy karena menghasilkan daya lebih, besar dengan daya listrik lebih kecil dibnding motor AC atau motor DC convensional. Lebih efisien pada frekwensi rendah yang biasa digunakan pada air conditioner, meningkatan efisiensy sampai sekitar 20 %

3. Daikin Motor Fan

Motor DC memungkinkan kontrol rotasi yang halus, sehingga mengurangi konsumsi energi. Peningkatan  hingga 40% pada putara rendah

 

Dc motor membuat control putaran yang baik, hingga menguarangi konsumsi energy. Motor ini juga menghasilkan peningkatan pada efisiensy operasional hingga 40 %, dibandingkan dengan motor ac. Peningkatan ini dapat diperhatikan pada kisaran kecepatan rendah.

4. Daikin Mobile Controller



5. Daikin Central Controller



6. Confort Control

a. Operasi Hening Unit Indor

b. Operasi Hening Unit Outdoor


c. Sensor Mata 
1.  Sensor Mata (intelligent Eye) mencegah terbuangnya energy dengan menggunakan sensor infra merah untuk mendeteksi pergerakan manusia di dalam ruangan. Ketka tidak ada pergrakan, sensor mata akan menaikan /settng temperaturnya 2 derjat celsus.

Semua model dari 2,5 sampai 7,1 kw dilengkapi dengan sensor mata. Fungsi ini dapat dengan mudah diaktifkan dari remot control

d. Fungsi Program Kering

e. Kecepatan Kipas Otomatis


7.  Confortable Airflow

a. Sirip Ganda Aliran Udara Kuat

b. Sirip tunggal Aliran Udara Kuat

c. Kisi Ksi Bersudut Lebar

d. Ayun Vertikal Otomatis (Atas dan bawah)

e. Ayn Horizontal Otomatis

f. Aliran Udara 3-D

g. Mode Confort Airflow
Berfungsi mencegah aliran udara yang tidak nyaman dari berhembus langsung pada tubuh. Untuk mencegah hembusan langsung, sirif bergerak ke atas selama operasi pendinginan dan ke bawah selama operasi pemanasan.


7. Life Style Convenience

a. Mode Low Watt
Fungsi konsumsi daya iini mengalihkan pembahasan kekhawatiran tentang putus  sekring dengan membiarkan arus maksimum AC diaktifkan dalam langkah langkah sesuai dengan pemakaian listrik rumah tangga.

b. Hemat Listrik Standby
Bahkan saat AC tidak beroperasi, AC tetap membutuhkan daya standby. Meskipun demikian, berkat fugsi ini daya standby yang dibutuhkan dapat dikurangi.

c. Mode Econo
Mode econo membatasi  konsumsi daya maksimum . Hal ini meningkatkan efisiensi operasi dan juga mencegah sekring kelebihan beban.

d. Fungsi Powerful Inverter

c. Remote Control Nirkable dengan Latar.

d. Saklar Nyala/ Mati unit Indoor 

8.. Timer

a. Pengatur Waktu hidup / mati 24 jam

b. Pengatur Waktu Mingguan

c. Mode Night Set


Sabtu, 25 April 2015

Teori Tentang Pencegahan Terhadan Kebakaran

Dalam gedung sistem penanggulangan kebakaran  biasanya ada 2 macam, yaitu

1. Yang pertama adalah sistem deteksi kebakaran, yang disebut juga sistem Fire Protection atau lebih dikenal lagi adalah sistem fire alarm. Sistem ini menyediakan peralatan untuk mendeteksi kemungkinan adanya sebab sebab akan terjadinya  kebakaran.

2. Sistem pemadam kebakaran atau disebut dengan Fire Fighting, bentuk perlawanan terhadap kebakaran, jika kebakaran terjadi. Biasnya di gedung disediakan 3 sistem pemadam kebakaran. Yaitu: Sistem srpinkler, sistem  hydran dan Fire Exinguisher atau APAR (Alat pemadam kebakaran).

A. Mengapa harus ada sistem pencegah dan  pemadam kebakaran.?

Bahaya kebakaraan adalah bahaya yang ditimbulkan oleh adanya nyala api yang tidk terkendali, sehingga dapat mengancam keselamatan jiwa manusia dan harta benda. Nyala api sendiri merupakan reaksi dari bahan bakar, panas dan oksigen.

Pencegahan terhadap bahaya  kebakaran berati segala usaha yang dilakukan agar tidak terjadi penyalaan api yang tidak terkendali.

Jumat, 24 April 2015

TEORI DASAR KELISTRIKAN (1)

Sebelum membahas tentang listrik secara lebih lanjut, mungkin disini perlu ditampilkan juga tentang teori dasar kelistrikan. Dan untuk memudahkan pembahasan disini akan dibahas tentang rumus rumus dasar kelistrikan.

Pembahasan tentang listrik tidak terlepas dari 4 materi pembahasan, yaitu Daya, Tegangan (beda potensial), Arus dan hambatan (resistensi). Jika Daya atau power satuannya adalah Watt atau VA, atau KW atau KVA, Tegangan satuannya adalah Volt, atau  KV  Arus satuannya adalah ampere dan tahanan satuannya adalah Ohm. Dan menayangkut hambatan R nanti juga ada pembahasan tentang resistensi, resistensi kapasitif dan juga induktif. Tetapi yang akan dibawas pertama kali adalah yang ke-4 tersebut.

Dan Hubungan keempatnya, serta rumus keterkaitannya  dapat dilihat dari lingkaran daya dibawah ini.



Atau rumus daya dapat dilihat juga dalam rumus dibawah ini

Gbr. Arah aliran arus Listrik



Gbr. Hubungan antara daya, tegangan, hambatan dan arus


A. JENIS JENIS DAYA

Daya listrik dibagi menjadi 3 macam, yaitu

1. Daya Nyata (P),
Daya nyata atau disebut juga daya aktif (Active Power) adalah daya yang terpakai untuk melakukan energi sebenarnya. Daya ini digunakan secara umum oleh konsumen dan dikonversikan dalam bentuk kerja, seperti yang digunakan untuk keperluan mesin mesin listrik atau peralatan lainnya. Satuan dari daya aktif atau daya nyata adalah Watt atau KiloWatt (kw) 

Rumus: 

a. 1 Phasa (Line to Netral)         P = V x I x Cos Ø

b. 3 phasa (line to line)              P = √3 x V x I x Cos Ø


2. Daya Semu (S), 
Daya semu (Apparent Power) adalah daya yang dihasilkan oleh perkalian antara tegangan dan arus dalam suatu penghantar / jaringan . Daya semu ini merupakan daya listrik yang melalui suatu penghantar transmisi atau distribusi. Satuan daya ini adalah VA (Volt ampere)

Rumus: 
a. 1 Phasa (Line to Netral)         S = V x Ix  Sin Ø


b. 3 phasa (line to line)              S = √3 x V x I x Sin Ø


Gbr. Penjumlahan trigonometri daya aktif, reaktif dan semu


3. Daya Reaktif (Q), 
Daya reaktif adalah jumlah daya yang diperlukan untuk pembentukan medan magnet. Dari pembentukan medan magnet maka akan terbentuk fluks medan magnet. Daya reaktif ini merupakan selisih antara daya semu yang masuk pada penghantar dengan daya aktif  pada penghantar itu sendiri, dimana daya itu terpakai untuk daya mekanik dan panas. Contoh daya yang menimbulkan daya reaktif adalah trafo, otor dan lainnya. Satuan daya reaktif adalah Var atau Kvar.

a. 1 Phasa (Line to Netral)         Q = V x I x Sin Ø


b. 3 phasa (line to line)              Q  = √3 x V x I x Sin Ø


B. SEGITIGA DAYA (HUBUNGAN ANTARA DAYA NYATA, DAYA SEMU DAN DAYA REAKTIF)

Segitiga daya merupakan segitiga yang menggambarkan hubungan matematika antara tipetipe daya yang berbeda antara daya semu, daya aktif dan daya reaktif. berdasarkan trigonometri. Hubungan dari ketiga Daya tersebut, dapat diumpamakan dari vektor segitiga  dibawah ini, 


      Gbr. Segitiga Daya


C.Faktor Daya

Faktor daya (Cos Ø) adalah rasio perbandingan antara daya aktif  (watt) dan daya semu (VA) yang digunakan dalam listri arus bolak balik (AC) atau beda sudut fasa antara V dan I yang biasanya dinyatakan dalam Cos Ø

F = Power faktor

F =  daya aktif / Daya Semu       P/S  = Cos Ø

    = KW / KVA

    = V.I Cos Ø / V.I

    =  Cos Ø

Faktor daya mempunyai range antara 0 - 1 dan dapat dinyatakan dalam persen. Faktor daya yang bagus, apabila bernilai mendekati angka 1

Tg = Daya reaktif / Daya aktif                Tg Ø      = Q / P

      = KVAR/KW

Karena komponen daya aktif umumnya konstan (komponen KVA dan KVAR berubah sesuai dengan faktor daya), dapat juga ditulis rumus sebagai berikut:

Daya Reaktif = Daya aktif x  Tg Ø 

                 Q = P. Tg Ø 


Faktor daya  ada 2 macam, yaitu faktor daya yang mendahului (Leading) dan faktor daya yang terbelakang (Lagging)

1. Faktor daya mendahului (leading)

Faktor daya saat memeiliki kondisi sebagai berikut:

a. Beban memberikan daya reaktif dari sistem atau beban bersifat kapasitif
b. Arus mendahului tegangan, V terbelakang dari I dengan sudut Ø




2. Faktor daya terbelakang (Lagging)

Faktor daya yang memiliki kondisi kondisi sebagai berikut:
1. Beban memerlukan daya reaktif dari sistem atau beban bersifat induktif
2. Arus (I)  terbelakang dari tegangan (V), V mendahului I dengan sudut Ø




D. Beban Listrik

Pada sumber listrik DC,  sifat beban hanya bersifat resistif murni, karena frekuensi sumber DC adalah nol. Reaktansi induktif (XL) akan menjadi nol yang berarti bahwa induktor tersebut akan short circuit. Reaktansi kapasitif (XC) akan menjadi tak berhingga yang berarti bahwa kapasitif tersebut akan open circuit. Jadi sumber DC akan mengakibatkan beban beban induktif dan beban kapasitif tidak akan berpengaruh pada rangkaian.

Pada sumber listrik AC beban dibedakan menjadi 3 sebagai berikut :

1. Beban Resitif
Beban resistif merupakan suatu resistor murni.. Beban ini hanya menyerap daya aktif dan tidak menyerap daya reaktif sama sekali. Tegangan dan arus se-fasa dengan rumus:

 R = V / I

2. Beban Induktif
Beban induktif adalah beban yang mengandung kumparan kawat yang dililitkan pada sebuah inti (biasanya inti besi), misal  motor listrik, induktor dan trafo. Beban ini mempunyai faktor daya antara 0 – 1 bersifat lagging. Beban ini menyerap daya aktif (kW) dan daya reaktif (kVAR). Tegangan mendahului arus sebesar φ°, 


3. Beban Kapasitif
Beban kapasitif adalah beban yang mengandung suatu rangakaian kapasitor. Beban ini mempunyai faktor daya antara 0 – 1 bersifat leading. Beban ini menyerap daya aktif (kW) dan mengeluarkan daya reaktif (kVAR). Arus mendahului tegangan sebesar φ°. 


E. Kapasitor Bank
Pemasangan kapasitor bank salah satu fungsi utamanya adalah untuk memperbaki (menaikan) faktor daya, terutama karena kelebihan daya induktif.

Ada banyak keuntungan dari peningkatan faktor daya, yaitu: 
a. Tagihan listrik menjadi lebih kecil (PLN akan mendenda jika faktor daya kurang dari 0,85)
b. Kapasitas distribusi sistem tenaga listrik akan meningkat
c. Mengurangi rugi rugi daya pada sistem
d. Adanya peningkatan tegangan karena daya menurun
e. Mengurangi besarnya tegangan jatuh

Jika faktor daya lebih kecil dari 0,85 maka kapasitas daya aaktif (KW) yang digunakan akan berkurang. Kapasitas itu akan terus menurun seiring dengan menurunnya faktor daya. Akibat menurunnya faktor daya maka akan timbul beberapa persoalan diantaranya:

a.  Membesarnya penggunaan daya listrik Kwh karena rugi daya
b. Membesarnya penggunaan daya listrik KVAR
c. Mutu listrik menjadi rendah karena jatuh tegangan (voltage drops)

Untuk meminimalkan hal tersebut, dapat di ambil tindakan sebagai berikut, yaitu Meminimalkan pengoperasian beban motor, atau mengganti motor motor yang sudah tua, tetapi hal ini bukan suatu penyelesaian. Untuk menuntaskan masalah , yaitu dengan memasang kapasitor bank.

Dengan demikian kapasitor bank berfungsi: 

a. Menurunkan medan dari daya reaktif 
a. Menghindari Trafo kelebihan beban (overload), sehingga memberikan tambahan daya yang tersedia.
b. Menghindari Voltage drops line ends
c.Menghindari  Kenaikan arus /suhu pada kabel, sehingga mengurangi rugi rugi 


(Lanjut)


(Sumber dari berbagai sumber internet.)



Rabu, 22 April 2015

SISTEM GAS MEDIK DI RUMAH SAKIT

Sistem gas medis merupakan instalasi untuk memenuhi kebutuhan dari gas untuk medis.  Instalasi gas medis telah dikembangkan untuk mengeliminasi kesulitan-kesulitan penggunaan gas medik secara konvensional. Dalam sistem ini, silinder gas tekanan tinggi, compressor dan pompa vacuum di sentralisasi di suatu tempat, kemudian  gas-gas dan udara tersebut dialirkan ke ruangan melalui pemipaan.

Gas medis yang digunakan di rumah sakit adalah elemen pendukung kehidupan yang berpengaruh langsung dalam mempertahankan hidup pasien. Oleh karena itu, pada bagian dimana gas medis digunakan, gas tersebut harus bersih, memiliki kemurnian tinggi dan tersedia dengan tekanan yang stabil.

Jenis jenis instalasi gas medis yang biasa dipasang untuk keperluan rumah sakit adalah :
  • Oxygen ( O2 )
  • Nitrous Oxide ( N2O )
  • Medical Compressed Air ( Breathing Air )
  • Vacum ( Suction )

Dan untuk ruangan ruangan perawatan / inap yang digunakan ada 2 macam, yaitu Oxygen ( O2 ) dan Vacum ( Suction ) 

A. Sentral Gas Medik
Sentral gas medik di suatu rumah sakit, untuk memenuhi kebutuhan rumah sakit, tersebut, terutama ruanginap/ ruang perawatan dan juga ruang operasi. Karena yang dibutuhkan terdiri dari 4 jenis tersebut, maka sentral gas medik juga terdiri dari: Sentral Oksigen, sentral N2O, sentral Medical Compressed air, dan central Vacum (suction).

1. Sentral Oxygen ( O2 )

Sentral oksigen menggunakan sistem sentral tabung gas dengan kapasitas 2x jumlah tabung yang bisa dipasang  (misal 1 sisi 8 tabung ,maka dinyataan berkapasitas 2x8 tabung), dengan sistem berangkai double row (dua  sayap) dengan bekerja secara bergantian. Sayap kiri  8 tabung dan sayap kanan 8 tabung.

Sentral gas medik ini diatur oleh piranti yang dinamakan dengan Automatic Manifold Change over,  dan dilengkapi juga dengan perlengkapan lainnya, seperti: Block valve c/w valve, High Pressure Tube, Plug Headers, Manifold Barcket, Shut down valve, piping sistem dan tabung gas.





Automatic Manifold Change Over  berfungsi sebagai:
  • pengatur supply oksigen secara otomatis,
  • pengatur tekanan  kerja sentral Instalasi
  • Penunjuk tekanan kerja  tabung Gas.
Penggunaan gas medik ini kemudian di sambungkan dengan instalasi ke ruangan ruangan inap dan juga ruang tindakan. Dengan demikian fungsi dari automatic change over device disamping  menurunkan tekanan gas dari tabung ke tekanan gas yang konstan 4, 0 kg/ cm dan juga menyediakan ke jalur distribusi.Tabung-tabung gas diletakkan pada kedua sisi alat. Satu sisi adalah sisi yang digunakan sedangkan sisi lainnya sebagai sisi cadangan. Saat sisi yang digunakan hampir kosong maka lampu yang tersedia dalam manifold akan menyala. Lampu akan terus menyala sampai saklar diarahkan kesisi cadangan sehingga sisi cadangan tersebut berubah menjadi sisi yang digunakan. Apabila saklar dipindah atau diarahkan maka posisi cadangaan akan tetap dibaca sebagai posisi cadangan biarpun sisi cadangan tersebut telah berfungsi sebagai posisi yang digunakan (penyalur).

Jika arah switch tidak diganti dan sisi cadangan yang dipakai telah kosong maka sisi yang lain tidak akan menyalurkan gas secara otomatis.


2. Sentral Nitrous Oxide ( N2O )
Pada hakekatnya sentral N2O sama seperti sentral oksigen. Sistem yang berbeda  hanyalah jenis gas yang digunakan , tekanan kerja gas, type valve dan regulator. Sentral.

Sentral N2O biasanya mempunyai kapasitas yang lebih sedikit daripada sentral oksigen. Jika contoh diatas untuk sentral oksigen adalah 2x8, misal untuk sentral N2O adalah 2x3 tabung, dipasang dengan sistem berangkai double  row (dua) sayap dengan bekerja secara bergantian. Seperti halnya sentral oksigen,  sentral N2O ini diatur oleh piranti yang dinamakan dengan Automatic Manifold Change over,  dan dilengkapi juga dengan perlengkapan lainnya, seperti: Block valve c/w valve, High Pressure Tube, Plug Headers, Manifold Barcket, Shut down valve, piping sistem dan tabung gas. Yang masing masing perlengkapan itu mempunyai fungsi yang sama dengan fungsi pada sentral oksigen.

Fungsi automatic change over device adalah menurunkan tekenan gas dari tabung ke tekanan gas yang konstan 4, 0 kg/ cm² dan menyediakan ke jalur distribusi. Tabung-tabung gas diletakkan pada kedua sisi alat. Satu sisi adalah sisi yang digunakan sedangkan sisi lainnya sebagai sisi cadangan. Saat sisi yang digunakan hampir kosong, sisi cadangan mulai menyediakan dan menyalurkan gas secara otomatis sehingga menjamin tidak adanya keterlambatan penyaluran gas. Pada saat sisi yang digunakan hampir kosong maka lampu yang tersedia dalam manifold akan menyala. Lampu akan terus menyala sampai saklar diarahkan kesisi cadangan sehingga sisi cadangan tersebut berubah menjadi sisi yang digunakan. Apabila saklar dipindah atau diarahkan maka posisi cadangaan akan tetap dibaca sebagai posisi cadangan biarpun sisi cadangan tersebut telah berfungsi sebagai posisi yang digunakan (penyalur) .

Jika arah switch tidak diganti dan sisi cadangan yang dipakai telah kosong maka sisi yang lain tidak akan menyalurkan gas secara otomatis. 

Mengingat penggunaan gas N2O hanya dipakai untuk keperluan pembiusan, maka pemakaiannya hanya di ruang perawatan khusus saja dan ruang operasi.


3. Sentral Medical Compressed Air ( Breathing Air )
Sentral kompressor yang terpasang biasanya merupakan kompressor udara bebas oli (oil Free), type duplex terdiri dari 2 kompressor,  1 tangki dan berikut kelengkapannya.

Sentral kompessor ini juga dilengkapi  dengan:
  • After Cooler (alat pendingin) yang berfungsi sebagai pendingin udara yang keluar dari kompressor, pemisah kondensasi, mengurangi kelembaban, debu dan kadar oli yang terdapat pada udara.
  • Tanki (reserver tank) berfungsi untuk menyimpan udara tekan dengan kapasitas kurang lebih 600 liter. Udara yang keluar dari sentral compressor ini kemudian dialirkan melalui pipa tembaga ke ruang tindakan di tiap lantai.












4. Sentral Vacum ( Suction )
Sentral suction (vacuum) yang dipasang adalah vacuum pump type rotar vane oil seal.




B. DISTRIBUSI DI GEDUNG

Gas medis dari ruang sentral didistribusikan ke ruang-ruang inap / perawatan  melalui instalasi pipa dan outlet gas medis. Pipa gas medis yang digunakan adalah jenis tembaga khusus untuk pemakaian gas medik. Sebelum melalui oulet gas medik di bed head, mainline pipa tersebut melewati zone valve dan alarm sistem yag terpasang di tiap lantai, yang dipasang di belakang ruang perawat.


Sistem gas medik yang terdiri dari 4 jens gas tersebut, disalurkan ke ruang inap dan juga ruang tindakan, ICCU  atau ruang opersi.  Untuk ruang inap, gas medik terdiri dari instalasi vakum dan oksegen, dan outletnya  yang terpasang di bedhead.. Sedang di ruang tindakan atau ruang operasi terdapat keempat sistem instalasi gas medik tersebut, yaitu: instalasi gas oksigen, N2O, vacuum dan kompressor, dan outletnya  terpasang di bedhead.

Di tiap lantai juga dipasang valve yang disebut dengan zone valve dan dipasang juga alarm valve tersebut yang berfungsi untuk menunjukan tekanan serta pada daerah tertentu serta memberikan sinyal bila tekanan gas menurun atau berlebihan pada lantai tersebut. Sehingga memudahkan tenaga teknis untuk meninjau operasional gas medis. Di samping itu  penggunaan alat ini dapat sebagai media perawatan serta pengamanan bahaya kebakaran dari gedung.