Sabtu, 29 September 2012

SISTEM PLUMBING GEDUNG

Sistem plumbing adalah suatu pekerjaan yang meliputi sistem pembuangan limbah / air buangan (air kotor dan air bekas), sistem venting, air hujan dan penyediaan air bersih. Jadi secara sederhana sistem plumbing dalam suatu gedung biasanya terdiri dari:

  • Sistem instalasi air kotor
  • Sistem instalasi air bekas
  • Sistem instalasi venting
  • Sistem penyediaan air bersih
  • Selain sistem diatas juga karena menyangkut pembuangan air,  yang harus dialirkan ke saluran, yaitu Sistem instalasi air hujan dan Instalasi drain (drain AC dan drain sprinkler). 

1. Sistim Instalasi air kotor

Sistem instalasi air kotor atau sistem pembuangan air limbah merupakan sistem instalasi untuk mengalirkan air buangan yang berasal dari peralatan saniter: closet dan urinoir.  Sistem instalasi ini kemudian diteruskan ke septictank, atau diolah dalam bioseptictank atau instalasi IPAL, hingga akhirnya menuju saluran kota.

2. Sistem Instalasi Air Bekas

Sistem pembuangan air bekas merupakan instalasi untuk mengalirkan air buangan yang berasal dari peralatan saniter: wastafel, FD (floor drain) dan kitchen zink. Instalasi air bekas pada umumnya memeiliki instalasi tersendiri yang berbeda dengan instalasi air kotor.  Pada gedung-gedung yang lebih besar, misalnya:mall, instalasi yaang berasal dari kitchen dipisahkan dan mempunyai instalasi sendiri yang kemudian dialirkan hingga ke greese trap. sistem air bekas juga biasanya dialirkan ke sistem pengolahan air limbah (IPAL), atau ada juga yang langsung dialirkan ke saluran kota, jika tidak membahayakan.


3.  Sistem Venting

   Sistem venting merupakan sistem instalasi untuk mengeluarkan udra yang terjebak di dalam pipa air limbah / air buangan (air kotor, air bekas dan air hujan).
      Diantara tujuan pemasangan sistem venting adalah:
a.       Menjaga sekat air dari efek siphon atau tekanan. Efek siphon timbul apabila seluruh perangkat dan pipa pembuangan  terisi air buangan pada akhir proses pembuangan mengakibatkan sekat air akan ikut mengalir.
b.      Menjaga aliran air yang lancar di dalam pipa pembuangan
c.       Memungkinkan adanya sirkulasi udara di dalam semua jaringan pipa pembuangan.
Gbr. Skematik Instalasi Air Kotor, air bekas dan venting

4. Sistem Penyediaan Air Bersih

     Sistem penyediaan air bersih meliputi penyedian air bersih itu sendiri dan distribusi. Sistem ini menyangkut sumber air bersih,  sistem penampungan air (bak air / tangki, ground tank, Roof tank), pompa transfer dan distribusi.
·         Sumber air bersih, biasanya di dapat dari PDAM, atau berasal dari Deep Well.
·         Sistem penampungan air dibedakan menjadi dua bagian yaitu: raw water tank dan clean water tank.  Sumber air bersih yang berasal dari PDAM langsung dialirkan ke clean water tank. Sedang yang berasal dari Deep well di masukan ke dalam raw water tank. Air yang berada di raw water tank ditreatment dulu di instalasi Water Treatment Plant dan selanjutnya di alirkan ke clean water tank (bak air bersih).
·         Air yang berada  di dalam baik air bersih (clean water tank) selanjutnya dialirkan  ke bak air atas (roof tank) dengan pompa transfer.
·         Distribusi air bersih pada 2 lantai teratas menggunakan packaged booster pump, sedang untuk lantai-lantai dibawahnya dialirkan secara gravitasi.

·         Pada umumnya persediaan air bersih diperhitungkan untuk cadangan 1 hari pemakaian air.





Gbr. Skematik air bersih  (contoh)


5. Sistem Air Hujan dan Sistem Drain

 Para perencana suatu gedung biasanya ada yang memasukan sistem air hujan dan drain ke dalam sistem plumbing, ada juga yang memisahkannya dari sistem plumbing. Sistem drain biasanya dipisahkan dari sistem plumbing, dan dimasukan kepada instalasi subyek dari sistem yang perlu drain, seperti AC atau sistem sprinkler, yang masuk pada sistem sprinkler tu sendiri.
 Karena air yang dihasilkan oleh air hujan atau drain (AC dan sprinkler) termasuk air bersih  (tidak   terkontaminasi) maka biasanya pembuangannya langsung dialirkan ke saluran kota (tidak melalui pengolahan)..


(lanjut.......)


SISTEM MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL (ME) SUATU BANGUNAN (GEDUNG)

Bangunan suatu gedung terdiri dari 3 komonen penting, yaitu struktur, arsitektur dan ME (Mekanikal & Elektrikal). Ketiganya satu sama lain saling terkait. Jika struktur mengedepankan kekuatan, arsitek lebih mengedepankan keindahan, maka ME (mekanikal & Elektrikal) lebih mengedepankan pada fungsi. Sekuat apapun bangunan dan seindah apapun bangunan, jika tidak ditunjang dengan sistem ME (mekanikal & elektrikal) maka bangunan tersebut tidak ada fungsinya.

Jadi sangat jelas antara ketiga komponen dalam suatu gedung yang saling terkait satu sama lain. Dengan demikian sistem mekanikal dan Elektrikal termasuk salah satu komponen yang sangat penting. Jadi intinya, suatu bangunan yang telah dirancang oleh para arsitek akhirnya harus dipakai, dihuni dan dinikmati. Untuk itu suatu gedung haus dilengkapi dengan prasarana yang sesuai dengan kebutuhan gedung itu sendiri, seperti perkantoran, rumah sakit, bank, bandara dan lain-lain.

 A. Sistem Mekanikal & Elektrikal (ME) yang Umum Digunakan pada Suatu Gedung
Sistem mekanikal dan elektrikal (ME) suatu bangunan / gedung sangat tergantung maksud suatu gedung itu dibangun. ME suatu gedung perkantoran  mempunyai perbedaan dengan gedung rumah sakit, atau bandara, pembangkit listrik atau pabik. Tetapi secara prinsip mempunyai berbagai persamaan.

Pada umumnya sistem ME yang sering digunakan dalam suatu gedung, diantaranya:
1. Sistem Plumbing
2. Sistem Pemadam Kebakaran (Fire Fighting)
3. Sistem transfortasi vertikal (lift)
4. Sistem Elektrikal
5. Sistem Penangkal petir
6. Sistem Fire Alarm (Fire Protection)
7. Sistem telepon
8. Sistem tata suara (sound system)
9. Sistem data
10.  Sistem CCTV
11, Sistem MATV
12. BAS (Building Automatic sistem), sistem ini digunakan untuk mengontrol suatu sistem tersebut diatas), terutama menyalakan dan mematikan ac (AHU & fan) atau panel listrik secara automatic. Tetapi sistem ini kadang masih jarang digunakan pada kebanyakan gedung, sehingga yang utama yang digunakan dalam sustu gedung adalah ke-11 sistem tersebut.
B. Sistem Mekanikal & Elektrikal (ME)  khusus suatu Gedung

Maksud dan fungsi utama dari suatu gedung menjadi landasan dasar dalam menentukan kekhusususan sistem ME dalam suatu bangunan/ gedung. Gedung rumah sakit misalnya akan mempunyai sistem yang khusus yang digunakan di gedung tersebut yang tidak digunakan di gedung lain. Demikian juga bandara atau mall / plaza. 

Salah satu kekhususan sistem yang ada di rumah sakit diantaranya adalah sistem instalasi gas (oksigen) dan compressor,  disamping sistem ipal-nya juga harus mempunyai sistem pennngan  khusus. Di bandara diantara sistem ME yang khusus yaitu sistem FIDS (Flight information display sistem), sistem belalai gajah (garbarata) dan yang tak kalah petingnya adalah sistem sekuriti. Sedang yang ada di mall atau plaza sistem yang khususnya misalnya sisstem instalasi gas untuk food coat.

Disamping itu dalam menentukan suatu sistempun sangat tergantung pada maksud dan fungsi gedung itu sendiri. Mislanya untuk sistem AC, sistemnya akan berbeda, Jika hanya untuk perkantoran biasanya digunakan sistem AC split. Sedang untuk bandara atau mall atau perkantoran dalam skala besar biasanya digunakan sistem AC terpusat.

(By. A. Lukmantara, dari berbagai sumber)




Incremental Launching Method (Metoda Peluncuran Bertahap)

Incremental Launcing  Method (ILM) atau metoda peluncuran bertahap (MPB) merupakan metode konstruksi mekanis yang dipakai dalam pembangunan jembatan atau jalan layang, yang diciptakan oleh Prof. Leonhardt dan rekannya Willi Baur pada tahun 1960.

Metode ini dipakai dalam pembangunan jalan layang atau jembatan  dengan struktur beton pratekan  yang berlokasi pada kondisi lapangan sebagai berikut:
  • Proyek jembatan beton dengan pilar tinggi'
  • Proyek jembatan / jalan layang di daerah perkotaan
  • Proyek jembatan beton yang melintas sungai dengan air yang dalam
  • Proyek jembatan beton yang melintas diatas jurang dalam
  • Proyek jalan layang yang melintas diatas jalan raya padat lalu lintas kendaraan
  • Proyek jalan layang yang melintas diatas rel kereta api
Proyek jembatan  yang memakai metode ini adalah: Jembatan Rio Caroni di Venezuela pada tahun 1962. Kemudian proyek jembatan kembar King Taksin di atas sungai Chao Phraya di Bangkok Thailand pada tahun 1982. Sedang di indonesia penerapan metode ini pertama kali pada proyek jalan layang sudirman di Jakarta pada tahun 1992.


(Masih proses lanjutan )